Manusia hakikatnya terdiri dari tiga elemen, jasad, akal dan hati. Jasad adalah tubuh yang kita miliki saat ini, akal adalah cara kita berpikir, sebagai anugrah yang tidak dimiliki makhluk hidup lain selain manusia. Dan hati adalah dimana iman dan nafsu kita berada. Sama halnya dengan rantai makanan dari suatu kehidupan seperti sari-sari makanan dalam tanah yang dimakan oleh cacing, kemudia cacing dimakan oleh ayam, ayam dimakan elang, kemudia elang ditakdirkan untuk mati, lalu menjadi bangkai, dan bangkai akan terurai menjadi sari-sari makanan dalam tanah. Sari-sari makanan tadi dimakan oleh cacing entah itu cacing yang sama dengan sebelumnya atau tidak, dan seterusnya sampai pada akhirnya di dunia ini kehilangan salah satu dari mereka. Begitu juga ketiga elemen dari manusia, bedanya dengan rantai makanan, jasad tidak makan hati dan hati tidak dimakan oleh akal, tetapi hati yang mempengaruhi apa yang akan kita kerjakan, akal akan mencerna apa yang dibisikkan oleh hati, lalu akal menyampaikan kepada jasad apa yang telah disampaikan sebelumnya oleh hati. Jadi apakah segala sesuatu itu dimulai dari hati? Yup…benar, di hati lah niat itu tumbuh.
Perbuatan yang telah kita lakukan semuanya berasal dari hati, dimana iman dan nafsu kita berada. Tinggal mana yang akan memimpinnya, apakah iman kita ataukah nafsu kita? Kadang sifat manusia yang selalu berapologi atas apa yang telah mereka lalukan lah yang membuat telinga hati kita tertutup untuk mendengar bisikan si iman. Semisal ketika kita dihadapkan pada kondisi kita sedang ujian, kita tidak bisa mengerjakan, kita bimbang akankah kita mencontek atau kah kita pasrah dengan ketidakmampuan kita mengerjakannya. Setelah perdebatan antara si iman dan si nafsu berakhir, akhirnya jasad memutuskan untuk tetap mencontek. Hati kecil kita yakin apa yang telah kita lakukan adalah salah, tetapi apologi atas kesalahan itulah yang akan membenarkan apa yang seharusnya tidak benar.
”Ini kan salah satu usaha…”
”Ah…yang laen juga pada nyontek”
”Sekali-kali ga’papa koq nyontek”
dan seterusnya hingga 1001 alasan akan diperoleh. Begitulah manusia, termasuk mereka, kalian dan tentu saja saya sendiri.
Pernah kah kita mendengar, ada teman kita, atau teman dari teman kita atau saudara kita atau bahkan kita sendiri berkata ”aku ini ga’ punya skill apa-apa”. Aku sendiri baru menyadari sebenarnya ga’ ada manusia yang tidak mempunyai kemampuan. Kemampuan itu asalnya dari akal. Dan akal itu diberikan oleh Sang Maha Pencipta pada setiap diri manusia. Jika kita berpikir kita tidak punya kemampuan, itu artinya kita tidak mempunyai akal, dan itu berarti kita meremehkan apa yang telah diberikan olehNya. Jika kita meremehkanNya sama halnya dengan kita tidak beriman kepadaNya. Nya disini sangat berarti luas, entah itu Nya milik ku ataupun Nya milik mu. Semua sama.. Jangan kalian menyangkalnya, karena ini hanyalah sebuah aturan untuk mengambil suatu simpulan. Seperti halnya jika semua X adalah Z dan Y adalah X, maka Y adalah Z. Jadi tidak ada alasan atau apologi yang dapat diterima oleh seorang pelacur, pencuri dan profesi apapun yang negatif di mata kita, yang mengatakan bahwa mereka berprofesi seperti itu karena tidak ada pilihan lain, karena masalah ekonomi, karena tidak punya keahlian. Itu hanya karena kalian tidak pernah mau berpikir kawan, kalian tidak pernah menggunakan apa yang telah Dia berikan pada kalian. Karena sebenarnya hidup ini adalah sebuah pilihan…
the latest "how?"